TUGAS MID PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
“GANGGUAN PRILAKU (
KETERBELAKANGAN MENTAL)”
Oleh :
NAMA : SYELA ERYANTRI SIREGAR
JUR/SEM : BKI-5 / V
NIM : 33.14.10.30
![]() |
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUMATERA
UTARA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Cacat
mental adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai
kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Anak-anak yang menderita cacat mental
mengalami keterlambatan permanen dan menyeluruh di dalam banyak aspek
perkembangan mereka sebab intelegensi mereka rusak. Seberapa tinggi
intelegensia mereka biasanya dinyatakan di dalam bentuk Intelligence Quotient (IQ). IQ normal berkisar antara 80 sampai
120. Anak-anak cacat mental memiliki IQ dibawah 70. Sekitar 2.5 persen
anak-anak mengalami semacam cacat mental. Mereka yang IQ-nya antara 50 dan 70
dikatakan menderita cacat mental ringan, sedangkan yang di bawah 50 dikatakan
menderita cacat mental parah. Adakalanya kemampuan menggerakkan badan dan
anggota badannya normal, tetapi koordinasi, kemampuan berbahasa dan sosialnya
terhambat. Inteligensi diukur dengan memberikan tes-tes yang menghasilkan IQ.
Banyak tes IQ yang tersedia. Yang paling banyak digunakan untuk anak-anak
adalah WISC(R) – Weschsler Intelligence
Scale for Children (Revised). Ter ini mengukur kemampuan-kemampuan seperti
pemahaman, pembendaharaan kata, berhitung, penalaran, dan ingatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan anak cacat mental?
2. Bagaimana Klasifikasi Anak Cacat Mental ?
3. Apakah
ciri-ciri cacat mental ?
4. Apakah
penyebab dari anak cacat mental tersebut?
5. Sumbangan
apa yang diberikan ?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk Mengetahui pengertian anak
cacat mental
2.
Untuk mengetahui klasifikasi aanak
cacat mental
3.
Untuk Mengetahui penyebab anak cacat
mental
4.
Mengetahui ciri-ciri cacat mental
5.
Mengetahui cara penanganan dan
suumbangan untuk anak cacat mental
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Anak Cacat Mental
Keterbelakangan mental disebut juga
dengan tunagrahita. Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut
anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Dalam kepustakaan
bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mental retarded,
mentally deviciency, mental detective, dan lain-lain.
Istilah-istilah diatas mempunyai
arti yang sama yaitu memaparkan kondisi anak yang kecerdasannya dibawah
rata-rata dan ditandai dengan keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapannya
dalam berinteraksi sosial. Dengan latar belakang seperti ini, Alfred Binet
tampil dengan konsep baru tentang psikologi bahwa kecerdasan diteliti secara
langsung tanpa adanya perantara lagi. Selanjutnya Binet melontarkan pula ide
baru yang diistilahkan dengan “Mental Level” yang kemudian menjadi “Mental
Age”. Mental Age adalah kemampuan mental yang dimiliki oleh anak pada usia
tertentu.
Retardasi mental ialah keadaan
dengan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan
(sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang
kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama (yang menonjol) ialah
intelegensi yang terbelakang (gangguan intelegensi). Retardasi mental disebut
juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna
mental.
Untuk tidak memberikan pengertian
yang berbaur perlu dijelaskan bahwa, dari sejarah penyebabnya, intelegensi
subnormal terbagi atas dua macam, yaitu mental terhambat atau mental
terbelakang atau lemah mental (mentally retarded) dan cacat mental ( mentally
defective). Penderita mental terhambat biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda
kelainan fisik. Secara fisik mereka sehat dan normal serta tidak mempunyai
sejarah penyakit atau luka yang mungkin menyebabkan kerusakan mental. Penderita
mengalami kelemahan mental secara umum dan bukan dikarenakan cacat tertentu.
Dengan kata lain, kelemahan mental yang diderita tidak mempunyai dasar organik.
Sering kali didapati bahwa penderita memang mempunyai garis retardasi mental
dalam keluarganya.
Untuk
memahami anak tunagrahita ada baiknya kita telaah definisi tentang anak ini
yang dikembangkan oleh AAMD (American Association of Mental Deficiency)
sebagai berikut: “Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual dibawah
rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian
perilaku dan terjadi pada masa perkembangan”
B. Klasifikasi
Anak Cacat Mental
Pengelompokan pada umumnya berdasarkan pada tarafintelegensinya, yang
terdiri dari terbelakang ringan, dan berat. Pengelompokan seperti ini
sebenarnya bersifat artificial karena ketiga kelompok di atas tidak dibatasi
oleh garis demargasi yang tajam. Gradasi dari satu level ke level berikutnya
bersifat kontinyu
Kemampuan inteligensi anak cacat mental kebanyakan diukur dengan tes
Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC).
1. Cacat Mental Ringan
Cacat
mental ringan disebut juga debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut
Binet, sedangkan menurut Skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih
dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Namun pada umumnya
anak cacat mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian social secara independen
dan anak ini tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti
anak normal pada umumnya.
2. Cacat Mental Sedang
Anak
cacat mental sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36
berdasarkan skala Binet sedangkan menurut Skala Wsechler memiliki IQ 54- 40.
Anak cacat mental sedang masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak
usia dini. Walaupun agak lambat. Anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri
dengan pelatihan yang intensif. Mereka dapat memperoleh manfaat latihan
kecakapan social dan pekerjaan namun tidak dapat menguasai kemampuan akademik
seperti; membaca, menulis, dan berhitung. Akan tetapi mereka masih dapat
bepergian di lingkungan yang sudah dikenalnya.
3. Cacat Mental Berat
Kelompok anak cacat mental berat disebut juga idiot. Kelompok ini dapat
dibedakan lagi antara anak cacat mental berat dan sangat berat. Cacat mental
berat (severe) memiliki IQ antara 32-20menurut skala Binet dan antara 39-25
menurut Skala Wechsler (WISC) Anak cacat mental sangat berat (profound)
memiliki IQ dibawah 19 menurut Skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut skala
Wechsler (WISC). Anak cacat mental berat memerlukan bantuan perawatan secara
total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dll. Hampir semua anak cacat mental
berat dan sangat berat menyandang cacat ganda. Umpamanya sebagai tambahan cacat
mental tersebut si anak lumpuh (karena cacat otak) , tuli atau cacat lainnya.
C.
Ciri-ciri Anak Cacat Mental
Ada beberapa pertanda yang dapat digunakan untuk mengenali
anak cacat mental
1.
Sejak lahir perkembangan mentalnya terbelakang disemua aspek
perkembangan. Kecuali perkembangan motorik misalnya: mereka dapat berdiri,
merangkak, dan berjalan.
2.
Terbelakang dalam perkembangan bicara.
3.
Kurang memberi
perhatian terhadap sekitarnya, misalnya: tidak bereaksi terhadap bunyi atau
suara yang terdengar.
4.
Kurang dapat
berkonsentrasi. Perhatian terhadap mainan hanya berlangsung singkat atau bila
diberi mainan tidak mengacuhkannya.
5.
Kesiagaannya kurang,
misalnya jika mainannya jatuh dihadapannya ia tidak berusaha mengambilnya.
6.
Kurang memberi respon terhadap lingkungan jika dibanding
dengan anak normal.
7.
Usia 2-3 tahunmasih
suka memasukan mainan kedalam mulutnya.
D.
Penyebab Anak Cacat Mental
1.
Peristiwa kelahiran
Di negara sedang berkembang,
penyebab cacat mental yang utama adalah kerusakan pada otak saat kelahiran.
Kehamilan yang tidak di control, bimbingan persalinan yang tidak tepat, bantuan
persalinan salah, fasilitas persalinan yang kurang memadai banyak mengakibatkan
kerusakan pada otak anak.
2.
Infeksi
Anak
menderita infeksi yang merusak otak seperti meningitis, encephalitistu
berkulosis, dan lain-lain. Sekitar 30%-50% dari mereka yang mengalami kerusakan
otak akibat penyakit-penyakit tersebut menderita deficit neorologikdan cacat
mental
3.
Malnutrisi
berat
Kekurangan
makanan bergizi semasa bayi dapat mengganggu partumbuhan dan fungsi susunan
syaraf pusat. Malnutrisi ini kebanyakan terjadi pada kelompok ekonomi lemah.
4.
Kekurangan
yodium
Kekurangan yodium dapat mempengaruhi
perkembangan mental anak, termasuk salah satu penyebab cacat mental. Untuk
mengenal anak cacat mental secara dini, beberapa gejala ini dapat dijadikan
indicator.
5.
Terlambat
memberi reaksi
Gejala-gejala ini dapat diamati pada
saat minggu-minggu pertama kehidupan anak. Antara lain; lambat memberi senyum
jika anak diajak tertawa atau digelitik. Anak tidak memperhatikan atau
seolah-olah tidak melihat jika dirangsang dengan gerakan tangan kita. Bagi anak
yang sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan kita. Bagi anak yang
sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan tersebut kekiri atau kekanan.
Begitu juga terhadap bunyi-bunyian, anak yang sehat akan tersentak, terkejut,
membesarkan bola mata, dan berusaha mencari suara tersebut. Sebaliknya anak
cacat mental akan terlambat bereaksi terhadap bunyi-bunyian, seolah-olah
tergantung pendengarannya. Anak cacat mental juga lambat mengunyah makanan,
sehingga ia seringkali mengalami gangguan.
6.
Memandang tangannya sediri
Bayi yang berusia antara 12-20
minggu bila berbaring sering memperhatikan gerakan tangannya sendiri. Pada anak
cacat mental gejala ini masih terlihat walaupun usianya sudah lebih tua dari 20
minggu.
7.
Memasukkan
benda ke mulut
Kegiatan
memasukkan benda ke dalam mulut merupakan aktifitas yang khas untuk anak usia
6- 12 bulan. Anak cacat mental masih suka memasukkan benda atau mainan ke dalam
mulutnya walaupun usianya sudah mencapai 2 atau 3 tahun.
8.
Kurang
perhatian dan kurang konsentrasi
Anak
cacat mental kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Perhatiannya terhadap
mainan hanya berlangsung singkat saja. Malahan seringkali tidak mengacuhkan
kejadian-kejadian di sekelilingnya. Bila diberi mainan, ia kurang tertarik dan
tidak berusaha untuk mengambilnya.
E. SUMBANGAN YANG DIBERIKAN
Menurut
Pendapat saya , Guru harus mengetahui perbedaan individual, khususnya dalam hal ini
perbedaan intelegensi, membawa kesadaran dalam dunia pendidikan akan perlunya
perlakuan khusus terhadap anak didik yang tergolong memiliki intelegensi rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat
terbatas memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan
beban dan kecepatan yang sesuai dengan keterbatasan mereka.
Guru
tidak boleh memperlakukan sama anak-anak
yang memiliki potensi berbeda semata-mata karena mereka kebetulan duduk di
kelas yang sama. Anak yang memiliki intelegensi rendah akan merasakan siksaan
di sekolah karena ketidak mampuan mereka mengikuti pelajaran sebagaimana
teman-teman sekelasnya. Anak-anak ini merasa rendah diri, kadang-kadang sampai
menarik diri dari pergaulan dan meraasa tidak pernah dapat sejajar dengan
teman-temannya.
Cara
penanganan dan pencegahannya dengan terapi perilaku, terapi okupasi, konseling.
Pencegahan dilakukan agar keterbelakangan yang dialami tidak sampai parah dan
mengganggu kualitas hidupnya nanti. Dalam rangka mengembangkan rencana
penanganan yang tepat, penilaian perilaku adaptif yang sesuai dengan usia harus
dibuat dengan menggunakan tes skrining perkembangan. Seorang pendidik harus
mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan
pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan
kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.
Dengan pemberian layanan pendidikan
khusus yang relevan dengan kebutuhannya, sisa potensi yang dimiliki oleh anak
berkelainan diharapkan dapat berkembang secara optimal. Banyak anak dengan
cacat mental menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu, terutama bila mereka
mendapatkan dukungan, bimbingan dan kesempatan pendidikan yang besar dari
lingkungan. Keberhasilan seorang anak sangat didukung oleh lingkungan yang ada
disekitarnya. Jika lingkungan atau orang tua mendukung setiap apa saja yang
bersifat positif yang dilakukan anaknya, maka anak dapat berkembang secara
maksimal. Mereka yang tumbuh dalam
lingkungan yang kurang mendukung dapat mengalami kegagalan untuk berkembang
atau kemunduran dalam hubungannya dengan anak-anak lain. “Disinilah perlunya
dukungan yang besar dari kelurga, orangtua kerap lupa bahwa setiap anak unik
dan memiliki kecerdasan yang berbeda”.
DAFTAR
PUSTAKA
http://jakartahomeschoolingmyblog.wordpress.com/perihal/anak-dengan-kebutuhan-khusus-dan-identifikasinya/
http://jakartahomeschoolingmyblog.wordpress.com/perihal/anak-dengan-kebutuhan-khusus-dan-identifikasinya/
T.
Sutjihati Somantri, 2006 Psikologi Anak Luar
Biasa, Bandung :PT. Refika Aditama
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1)
Anak cacat mental adalah anak yang
memiliki kecerdasan jelas berada di bawah rata-rata.
2)
Klasifikasi
anak cacat mental antara lain : anak cacat mental ringan, anak cacat mental
sedang, dan anak cacat mental berat dan sangat berat.
3)
Penyebab
anak cacat mental antara lain:
a.
Penyebab kelahiran
b.
Infeksi
c.
Malnutrisi berat
d.
Kekurangan
yodium
e.
Terlambat memberi reaksi
f.
Memandang
tangannya sendiri
g.
Memasukkan
benda di mulut
h.
Kurang
perhatian dan kurang konsentrasi
4) Keberhasilan seorang anak sangat didukung oleh
lingkungan yang ada disekitarnya. Jika lingkungan atau orang tua mendukung
setiap apa saja yang bersifat positif yang dilakukan anaknya, maka anak dapat
berkembang secara maksimal. Mereka yang
tumbuh dalam lingkungan yang kurang mendukung dapat mengalami kegagalan untuk
berkembang atau kemunduran dalam hubungannya dengan anak-anak lain. “Disinilah
perlunya dukungan yang besar dari kelurga, orangtua kerap lupa bahwa setiap
anak unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar