Sabtu, 30 September 2017

Keterbelakangan Mental





TUGAS MID PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
“GANGGUAN PRILAKU ( KETERBELAKANGAN MENTAL)”
Oleh :
NAMA               : SYELA ERYANTRI SIREGAR
JUR/SEM         : BKI-5 / V
NIM                   : 33.14.10.30               


IMG_20150610_093317.jpg
 







FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2016

 



 


 


BAB I
PENDAHULUAN


                                    
A.    LATAR BELAKANG
Cacat mental adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Anak-anak yang menderita cacat mental mengalami keterlambatan permanen dan menyeluruh di dalam banyak aspek perkembangan mereka sebab intelegensi mereka rusak. Seberapa tinggi intelegensia mereka biasanya dinyatakan di dalam bentuk Intelligence Quotient (IQ). IQ normal berkisar antara 80 sampai 120. Anak-anak cacat mental memiliki IQ dibawah 70. Sekitar 2.5 persen anak-anak mengalami semacam cacat mental. Mereka yang IQ-nya antara 50 dan 70 dikatakan menderita cacat mental ringan, sedangkan yang di bawah 50 dikatakan menderita cacat mental parah. Adakalanya kemampuan menggerakkan badan dan anggota badannya normal, tetapi koordinasi, kemampuan berbahasa dan sosialnya terhambat. Inteligensi diukur dengan memberikan tes-tes yang menghasilkan IQ. Banyak tes IQ yang tersedia. Yang paling banyak digunakan untuk anak-anak adalah WISC(R) – Weschsler Intelligence Scale for Children (Revised). Ter ini mengukur kemampuan-kemampuan seperti pemahaman, pembendaharaan kata, berhitung, penalaran, dan ingatan.
      
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan anak cacat mental?
2.      Bagaimana Klasifikasi Anak Cacat Mental ?
3.      Apakah ciri-ciri cacat mental ?
4.      Apakah penyebab dari anak cacat mental tersebut?
5.      Sumbangan apa yang diberikan ?

      C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk Mengetahui pengertian anak cacat mental 
2.      Untuk mengetahui klasifikasi aanak cacat mental
3.      Untuk Mengetahui penyebab anak cacat mental
4.      Mengetahui ciri-ciri cacat mental
5.      Mengetahui cara penanganan dan suumbangan untuk  anak cacat mental


BAB II
PEMBAHASAN

      A.    Pengertian Anak Cacat Mental
Keterbelakangan mental disebut juga dengan tunagrahita. Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mental retarded, mentally deviciency, mental detective, dan lain-lain.
Istilah-istilah diatas mempunyai arti yang sama yaitu memaparkan kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata-rata dan ditandai dengan keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapannya dalam berinteraksi sosial. Dengan latar belakang seperti ini, Alfred Binet tampil dengan konsep baru tentang psikologi bahwa kecerdasan diteliti secara langsung tanpa adanya perantara lagi. Selanjutnya Binet melontarkan pula ide baru yang diistilahkan dengan “Mental Level” yang kemudian menjadi “Mental Age”. Mental Age adalah kemampuan mental yang dimiliki oleh anak pada usia tertentu.
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama (yang menonjol) ialah intelegensi yang terbelakang (gangguan intelegensi). Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Untuk tidak memberikan pengertian yang berbaur perlu dijelaskan bahwa, dari sejarah penyebabnya, intelegensi subnormal terbagi atas dua macam, yaitu mental terhambat atau mental terbelakang atau lemah mental (mentally retarded) dan cacat mental ( mentally defective). Penderita mental terhambat biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan fisik. Secara fisik mereka sehat dan normal serta tidak mempunyai sejarah penyakit atau luka yang mungkin menyebabkan kerusakan mental. Penderita mengalami kelemahan mental secara umum dan bukan dikarenakan cacat tertentu. Dengan kata lain, kelemahan mental yang diderita tidak mempunyai dasar organik. Sering kali didapati bahwa penderita memang mempunyai garis retardasi mental dalam keluarganya. 
Untuk memahami anak tunagrahita ada baiknya kita telaah definisi tentang anak ini yang dikembangkan oleh AAMD (American Association of Mental Deficiency) sebagai berikut: “Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual dibawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan terjadi pada masa perkembangan”
      B.     Klasifikasi Anak Cacat Mental
Pengelompokan pada umumnya berdasarkan pada tarafintelegensinya, yang terdiri dari terbelakang ringan, dan berat. Pengelompokan seperti ini sebenarnya bersifat artificial karena ketiga kelompok di atas tidak dibatasi oleh garis demargasi yang tajam. Gradasi dari satu level ke level berikutnya bersifat kontinyu
Kemampuan inteligensi anak cacat mental kebanyakan diukur dengan tes Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC).
1.      Cacat Mental Ringan
Cacat mental ringan disebut juga debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut Skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Namun pada umumnya anak cacat mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian social secara independen dan anak ini tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya.
2.      Cacat Mental Sedang
Anak cacat mental sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 berdasarkan skala Binet sedangkan menurut Skala Wsechler memiliki IQ 54- 40. Anak cacat mental sedang masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat. Anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif. Mereka dapat memperoleh manfaat latihan kecakapan social dan pekerjaan namun tidak dapat menguasai kemampuan akademik seperti; membaca, menulis, dan berhitung. Akan tetapi mereka masih dapat bepergian di lingkungan yang sudah dikenalnya.
3.       Cacat Mental Berat
Kelompok anak cacat mental berat disebut juga idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak cacat mental berat dan sangat berat. Cacat mental berat (severe) memiliki IQ antara 32-20menurut skala Binet dan antara 39-25 menurut Skala Wechsler (WISC) Anak cacat mental sangat berat (profound) memiliki IQ dibawah 19 menurut Skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut skala Wechsler (WISC). Anak cacat mental berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dll. Hampir semua anak cacat mental berat dan sangat berat menyandang cacat ganda. Umpamanya sebagai tambahan cacat mental tersebut si anak lumpuh (karena cacat otak) , tuli atau cacat lainnya.

C.    Ciri-ciri Anak Cacat Mental
Ada beberapa pertanda yang dapat digunakan untuk mengenali anak cacat mental
1.    Sejak lahir perkembangan mentalnya terbelakang disemua aspek perkembangan. Kecuali perkembangan motorik misalnya: mereka dapat berdiri, merangkak, dan berjalan.
2.    Terbelakang dalam perkembangan bicara.
3.     Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya: tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar.
4.     Kurang dapat berkonsentrasi. Perhatian terhadap mainan hanya berlangsung singkat atau bila diberi mainan tidak mengacuhkannya.
5.     Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainannya jatuh dihadapannya ia tidak berusaha mengambilnya.
6.    Kurang memberi respon terhadap lingkungan jika dibanding dengan anak normal.
7.     Usia 2-3 tahunmasih suka memasukan mainan kedalam mulutnya.
D.        Penyebab Anak Cacat Mental
1.      Peristiwa kelahiran
            Di negara sedang berkembang, penyebab cacat mental yang utama adalah kerusakan pada otak saat kelahiran. Kehamilan yang tidak di control, bimbingan persalinan yang tidak tepat, bantuan persalinan salah, fasilitas persalinan yang kurang memadai banyak mengakibatkan kerusakan pada otak anak.
2.            Infeksi
Anak menderita infeksi yang merusak otak seperti meningitis, encephalitistu berkulosis, dan lain-lain. Sekitar 30%-50% dari mereka yang mengalami kerusakan otak akibat penyakit-penyakit tersebut menderita deficit neorologikdan cacat mental
3.        Malnutrisi berat
            Kekurangan makanan bergizi semasa bayi dapat mengganggu partumbuhan dan fungsi susunan syaraf pusat. Malnutrisi ini kebanyakan terjadi pada kelompok ekonomi lemah.



4.        Kekurangan yodium
            Kekurangan yodium dapat mempengaruhi perkembangan mental anak, termasuk salah satu penyebab cacat mental. Untuk mengenal anak cacat mental secara dini, beberapa gejala ini dapat dijadikan indicator.
5.          Terlambat memberi reaksi
            Gejala-gejala ini dapat diamati pada saat minggu-minggu pertama kehidupan anak. Antara lain; lambat memberi senyum jika anak diajak tertawa atau digelitik. Anak tidak memperhatikan atau seolah-olah tidak melihat jika dirangsang dengan gerakan tangan kita. Bagi anak yang sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan kita. Bagi anak yang sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan tersebut kekiri atau kekanan. Begitu juga terhadap bunyi-bunyian, anak yang sehat akan tersentak, terkejut, membesarkan bola mata, dan berusaha mencari suara tersebut. Sebaliknya anak cacat mental akan terlambat bereaksi terhadap bunyi-bunyian, seolah-olah tergantung pendengarannya. Anak cacat mental juga lambat mengunyah makanan, sehingga ia seringkali mengalami gangguan.
6.       Memandang tangannya sediri
            Bayi yang berusia antara 12-20 minggu bila berbaring sering memperhatikan gerakan tangannya sendiri. Pada anak cacat mental gejala ini masih terlihat walaupun usianya sudah lebih tua dari 20 minggu.
7.           Memasukkan benda ke mulut
            Kegiatan memasukkan benda ke dalam mulut merupakan aktifitas yang khas untuk anak usia 6- 12 bulan. Anak cacat mental masih suka memasukkan benda atau mainan ke dalam mulutnya walaupun usianya sudah mencapai 2 atau 3 tahun.
8.           Kurang perhatian dan kurang konsentrasi
            Anak cacat mental kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Perhatiannya terhadap mainan hanya berlangsung singkat saja. Malahan seringkali tidak mengacuhkan kejadian-kejadian di sekelilingnya. Bila diberi mainan, ia kurang tertarik dan tidak berusaha untuk mengambilnya.







E.     SUMBANGAN YANG DIBERIKAN
Menurut Pendapat saya , Guru harus mengetahui  perbedaan individual, khususnya dalam hal ini perbedaan intelegensi, membawa kesadaran dalam dunia pendidikan akan perlunya perlakuan khusus terhadap anak didik yang tergolong memiliki intelegensi  rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban dan kecepatan yang sesuai dengan keterbatasan mereka.
Guru tidak boleh  memperlakukan sama anak-anak yang memiliki potensi berbeda semata-mata karena mereka kebetulan duduk di kelas yang sama. Anak yang memiliki intelegensi rendah akan merasakan siksaan di sekolah karena ketidak mampuan mereka mengikuti pelajaran sebagaimana teman-teman sekelasnya. Anak-anak ini merasa rendah diri, kadang-kadang sampai menarik diri dari pergaulan dan meraasa tidak pernah dapat sejajar dengan teman-temannya.
Cara penanganan dan pencegahannya dengan terapi perilaku, terapi okupasi, konseling. Pencegahan dilakukan agar keterbelakangan yang dialami tidak sampai parah dan mengganggu kualitas hidupnya nanti. Dalam rangka mengembangkan rencana penanganan yang tepat, penilaian perilaku adaptif yang sesuai dengan usia harus dibuat dengan menggunakan tes skrining perkembangan. Seorang pendidik harus mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.
 Dengan pemberian layanan pendidikan khusus yang relevan dengan kebutuhannya, sisa potensi yang dimiliki oleh anak berkelainan diharapkan dapat berkembang secara optimal. Banyak anak dengan cacat mental menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu, terutama bila mereka mendapatkan dukungan, bimbingan dan kesempatan pendidikan yang besar dari lingkungan. Keberhasilan seorang anak sangat didukung oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Jika lingkungan atau orang tua mendukung setiap apa saja yang bersifat positif yang dilakukan anaknya, maka anak dapat berkembang secara maksimal.  Mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang kurang mendukung dapat mengalami kegagalan untuk berkembang atau kemunduran dalam hubungannya dengan anak-anak lain. “Disinilah perlunya dukungan yang besar dari kelurga, orangtua kerap lupa bahwa setiap anak unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda”.  


DAFTAR PUSTAKA

http://jakartahomeschoolingmyblog.wordpress.com/perihal/anak-dengan-kebutuhan-khusus-dan-identifikasinya/
http://jakartahomeschoolingmyblog.wordpress.com/perihal/anak-dengan-kebutuhan-khusus-dan-identifikasinya/
T. Sutjihati Somantri, 2006 Psikologi Anak Luar  Biasa, Bandung :PT. Refika Aditama











BAB III
              PENUTUP
A.    Kesimpulan
1)      Anak cacat mental adalah anak yang memiliki kecerdasan jelas berada di bawah rata-rata.
2)         Klasifikasi anak cacat mental antara lain : anak cacat mental ringan, anak cacat mental sedang, dan anak cacat mental berat dan sangat berat.
3)           Penyebab anak cacat mental antara lain:
a.         Penyebab kelahiran
b.           Infeksi
c.          Malnutrisi berat
d.          Kekurangan yodium
e.          Terlambat memberi reaksi
f.            Memandang tangannya sendiri
g.            Memasukkan benda di mulut
h.             Kurang perhatian dan kurang konsentrasi
4)       Keberhasilan seorang anak sangat didukung oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Jika lingkungan atau orang tua mendukung setiap apa saja yang bersifat positif yang dilakukan anaknya, maka anak dapat berkembang secara maksimal.  Mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang kurang mendukung dapat mengalami kegagalan untuk berkembang atau kemunduran dalam hubungannya dengan anak-anak lain. “Disinilah perlunya dukungan yang besar dari kelurga, orangtua kerap lupa bahwa setiap anak unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda”. 

                




Tidak ada komentar:

Posting Komentar